Kita di GRII Kelapa Gading ini merayakan Natal pada Minggu ke-4 Adven, yang sebetulnya belum momen Natal dalam Kalender Gereja. Jadi kita merayakan Natal dan pada saat yang sama Minggu Adven yang terakhir. Dalam tiga tahun terakhir ini, kita merenungkan Natal selalu dalam lensa Adven, rasa Adven.
Apakah Natal rasa Adven itu? Yang pasti bukan Natal rasa nostalgia. Kalau Saudara ke mal, restoran, supermarket, dsb. dalam bulan Desember ini, Saudara akan mendengar lagu-lagu Natal. Satu hal menarik, Saudara tidak akan mendengar lagu Natal yang baru; masa Natal bukan masa jualan barang baru tapi justru jualan stok lama. Coba saja Saudara bikin lagu Natal yang baru, jualnya akan susah banget. Ini bukan tidak mungkin, Mariah Carey sudah membuktikannya, tapi Saudara harus ingat kapan lagu Mariah Carey itu, All I Want for Christmas is You, dirilis, yaitu tahun 1994. Itu 30 tahun yang lalu, banyak dari antara Saudara yang hadir di sini bahkan belum lahir. Setelah itu, apa ada lagu Natal baru yang populer? Tidak ada. Saudara bisa lihat Natal dunia itu Natal nostalgia, Natal yang ingin mengenang masa-masa yang dulu, dsb.
Adven adalah kebalikannya. Adven bukan mengenai nostalgia, Adven adalah mengenai realitas. Adven membongkar ilusi-ilusi dan kebohongan-kebohongan yang kita percaya selama ini. Adven menyadarkan Gereja, bahwa Gereja bukan hidup di zaman keemasan masa lampau, namun juga bukan di masa depan dalam langit dan bumi yang baru. Adven menyatakan kepada kita bahwa kita hidup di tengah-tengahnya, di masa antara, di masa penantian –adven. Gereja hidup ditarik dua arah. Gereja hidup dalam realitas yang tidak mudah. Itulah Adven. Itu sebabnya khotbah hari ini adalah khotbah Natal dalam lensa Adven.
Kita akan merenungkan Matius pasal 2, dan coba membayangkan dengan lebih realistis apa yang sesungguhnya terjadi dalam masa Natal, karena kisah Natal sudah terlalu familiar, sudah terlalu sering dibaca dengan lensa-lensa rose color tinted-glasses, lensa-lensa warna bunga mawar. Buat kita Natal adalah Yesus Anak Allah datang ke dunia, Imanuel, Allah beserta kita, Dia datang menyelamatkan kita, lalu berhenti di situ. Namun di pasal 2 ini Saudara akan melihat, bahwa begitu kita masuk ke setengah bagian belakangnya, ceritanya tidak pernah berhenti di situ, ceritanya langsung jadi sangat gelap. Pesawatnya kena turbulensi gede, mesinnya meledak, dan sekarang menukik tajam ke bawah. Kita akan coba membayangkan ini, kita masukkan kaki kita ke sepatu Maria dan Yusuf dalam kisah pasal 2 ini, mengenai apa yang sebenarnya terjadi setelah Yesus lahir, dan menyadari betapa mengerikannya semua peristiwa Natal ini.
Saudara coba bayangkan engkau seorang remaja wanita Yahudi, dan baru saja mengalami kehamilan misterius yang katanya oleh Roh Kudus Allah datang menaungimu. Roh Kudus Allah datang menaungi ini bukan kode bahwa Allah somehow berhubungan seks dengan Maria, ini bahasa orang Yahudi, gema dari ayat-ayat pertama dalam Alkitab, bahwa Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air –Roh Allah menaungi permukaan air– maka bumi yang tidak berbentuk dan kosong menjadi sesuatu; dan di bagian ini, maka rahim Maria yang belum dibuahi dan kosong –tempat yang belum mendukung adanya kehidupan– tiba-tiba jadi mengandung kehidupan, itulah maknanya. Jadi bayangkan, hal yang terjadi pada awal mula sejarah alam semesta itu sekarang terjadi lagi namun dalam skala manusia, dalam rahimmu sendiri. Ini begitu mencengangkan, misterius. Lalu tunanganmu mengetahui hal ini, dan dia berniat menceraikanmu, diam-diam sih karena dia orang baik-baik, tapi itu berarti dia tidak mempercayai ceritamu mengenai semua urusan ini. Tetapi kemudian dia sendiri mendapat penglihatan sehingga dia tidak jadi melakukannya. Kalau ini terjadi dalam hidupmu, ini bukan membuatmu jadi lega ‘kan, ini membuat situasi hidupmu makin misterius dan makin gila! Kehamilannya sendiri sudah membawa stres berat dalam hidupmu, lalu selanjutnya apa yang terjadi?? Beberapa bulan berlalu, dan tiba-tiba ada pengumuman bahwa pemerintah pusat di Roma, para politikus bedebah yang menjajah tanah airmu selama 50 tahun terakhir, mau menaikkan pajak lagi. Oleh sebab itu di tengah-tengah kehamilan trimester kedua atau ketiga ini, engkau harus naik keledai sejauh 151 km ke kota kampung halaman suamimu, Betlehem, untuk sebuah sensus yang memang tujuannya bukan sekadar mendaftarkan orang tok tapi juga properti/asetnya demi tujuan perpajakan. Mereka itu mau memeras lagi sisa-sisa tetesan terakhir hasil kerja bangsamu; dan untuk itu, di tengah-tengah kehamilanmu engkau harus pergi naik keledai.
Sampai di sana kita tidak tahu apa persisnya yang terjadi, namun intinya mereka tidak sempat kembali ke Nazaret, atau mungkin tidak bisa kembali ke kampung halaman Maria, maka Maria harus bersalin di sana. Sekali lagi bayangkan, engkau masih remaja, engkau melahirkan, tapi bukan di rumahmu. Tidak ada ibumu, tidak ada aunty-aunty-mu. Orang-orang yang kau kenal semuanya tidak ada. Engkau hanya dikelilingi oleh keluarga suamimu, yang banyak dari antara mereka engkau bahkan belum pernah bertemu. Ini saja sudah meresahkan, namun tidak sampai di situ, tiba-tiba kalian mendengar kabar ada tentara-tentara yang mau datang dari Yerusalem ke Betlehem untuk mencari dan membunuh bayimu. Whattt??? Kenapa bisa seperti ini??
Tengah malam engkau pun harus kabur. Kabur ke mana? Sepertinya Yusuf, suamimu itu, punya koneksi famili di Mesir (di sana memang ada perkampungan Yahudi yang cukup besar pada waktu itu), maka kalian kabur ke sana, pada tengah malam, perjalanan 500 km lebih, membawa bayi yang baru lahir, melewati padang gurun Israel, melewati padang gurun Mesir, kabur menyelamatkan nyawa. Dan selagi dalam perjalanan, yang kira-kira makan waktu sebulan, kalian mendengar kabar dari Betlehem bahwa Herodes dan tentara-tentaranya beneran datang ke sana, mencari-cari kalian, lalu karena tidak bisa menemukan bayi kalian, dia akhirnya main bumi hangus, membunuhi bayi-bayi orang lain yang kira-kira seumur! Bayangkan perasaan marah, perasaan ngeri, dan juga mungkin perasaan bersalah yang menghantuimu sementara engkau sampai ke Mesir dan membesarkan anakmu di sana! Lagipula Mesir tempat membesarkan anakmu ini bukan tempat yang engkau pilih, engkau tidak kenal siapa pun di situ, ini tanah asing.
Hal ini berlangsung satu sampai tiga tahun, dan akhirnya ada kabar baik, Herodes si raja bengis itu mati. Kalian pun mulai berjalan pulang ke Betlehem, menempuh kembali 500 km, untuk menetap di sana. Itu kota suamimu, kota Daud, tempat yang pas untuk membesarkan keturunan Daud. Tetapi, baru saja kalian pikir situasi berubah baik, kalian mendengar kabar bahwa yang naik takhta menggantikan Herodes adalah Arkhelaus, anaknya, yang sama jahatnya, maka sepertinya Betlehem bukanlah tempat yang aman. Lalu harus ke mana?? Jadi, kalian dari Betlehem kembali menempuh 151 km ke tempat bermulanya semua ini, kampung halaman Maria, tempat kehamilan misterius itu bermula, sebuah dusun super kecil yang setiap orang kenal semua orang, yang sejak awal kehamilan misterius ini muncul engkau sudah viral dibicarakan semua orang di sana karena perutmu gede ketika engkau belum punya suami.
Saya mau tanya, kalau inilah hidupmu, apa yang jadi perasaanmu? Inilah realitas Natal. Ayolah, Saudara, kita akan merasa apa? Kalau kita jujur, kita akan merasa ini mengerikan! Dalam ruangan ini, malam ini, begitu banyak orang, keluarga-keluarga, dengan kisah pergumulan yang riil dalam hidupnya, tetapi yang keluarga Maria dan Yusuf alami di sini, ya ampun!! Kalau kita sampai mengalami seperti itu, bisakah kita survive?? Bayangkan kalimat doa seperti apa yang keluar dari mulutmu selagi engkau kabur ke padang belantara malam-malam membawa bayimu??
Kisah-kisah ini sedang mengangkat satu pertanyaan ‘kan, yaitu ketika teror, tragedi, kekecewaan, menimpa hidup kita, di mana Tuhan?! Dalam situas-situasi seperti ini, kita sangat mudah otaknya dan hatinya berkonspirasi untuk merasakan bahwa Tuhan menghilang, absen, pesawatnya menukik tajam, keretanya lepas dari rel, di mana Tuhan, Dia tidak menjawab doa-doaku; kalau Yesus itu riil dan Dia benar-benar baik, harusnya ‘kan Dia mencegah hal-hal seperti ini terjadi. Dan mungkin beberapa orang bahkan merasa cukuplah sudah, mereka maju selangkah dan mengatakan, “Persetan dengan iman Kristen! Jika ada Tuhan, dan Tuhan itu baik, hal-hal seperti ini tidak akan terjadi! Jadi, Dia pasti tidak ada! Lupakan Dia, lupakan dongeng anak-anak ini!”
Saudara, inilah cerita Natal. Welcome kepada Alkitab. Itu sebabnya dari Matius 2 ini, dan semua pasal yang lain, kita menyadari satu hal, bahwa ini bukan cuma ditulis karena Matius hobi sejarah, ini semua ditulis dengan tujuan tertentu. Matius pada dasarnya sedang menyajikan satu alternatif bagi kita, yaitu bagaimana jika Tuhan itu ada dan Dia baik, dan melalui semua ini Dia sesungguhnya sedang menjalankan rencana-Nya; hanya saja rencana-Nya terjadi melalui cara-cara yang kita tidak pernah expect, bahkan melalui cara-cara yang kita tidak mau.
Saudara sekarang bisa menyadari tujuan adanya kisah-kisah seperti ini dalam Alkitab, yaitu menantang, membongkar suatu mitos yang sangat populer tetapi ngaco yang menjangkiti Kekristenan kita, bahwa Kekristenan adalah ‘saya pendosa, saya mengundang Yesus masuk dalam hidupku, maka hidupku akan pelan-pelan naik, Yesus akan memenuhi harapan-harapanku dan mimpi-mimpiku mengenai bagaimana hidupku bisa berkembang dan mekar, karena Yesus ‘kan mengasihiku, baik, penuh kemurahan, jadi Dia pasti akan memenuhi semua itu’. Namun kemudian dalam hidup kita tidak seperti itu yang terjadi. Harapan-harapan kita tidak terjadi, yang terjadi bahkan banyak skenario-skenario mimpi buruk. Lalu dalam momen seperti ini, banyak orang Kristen akhirnya mengatakan, “Apa gunanya jadi orang Kristen? Di mana Tuhan??”
Saudara, melalui semua ini Matius mengajak kita untuk melihat semua pengalaman tersebut dengan sudut pandang yang baru. Itulah tujuannya dia menceritakan kisah ini. Kisah ini dibagi tiga bagian, ada struktur dasarnya, setiap bagian punya pola yang sama. Pertama, Matius menceritakan ada momen tragedi, atau teror, atau kekecewaan, dan kelihatannya segala sesuatu seperti hancur, namun kemudian dia mengakhiri dengan menjangkarkannya pada satu kutipan dari Perjanjian Lama. Berikutnya dia masuk ke bagian tragis yang lain, lalu kembali mengakhiri dengan menjangkarkannya pada kutipan dari Perjanjian Lama. Berikutnya dia masuk ke bagian tragis yang lain lagi, dan kembali menjangkarkannya pada kutipan dari Perjanjian Lama. Tiga kali dia melakukan ini. Kita akan bahas setiap bagian ini. Ini adalah suatu undangan dari Matius untuk memikirkan kembali hubungan antara Allah Alkitab dengan penderitaan, dalam sudut pandang yang baru.
Bagian Pertama (ayat 1-15)
Ini bagian yang kita paling familier, adanya orang-orang majus. Di sini tidak pernah disebut mereka cuma tiga orang, hadiahnya memang tiga, tetapi most likely mereka datang satu karavan penuh, kira-kira 100-150 orang, sebagaimana dikatakan seluruh Yerusalem sampai heboh gara-gara kedatangan mereka.
Apa yang mereka lakukan? Mereka tanya ‘di mana raja yang baru lahir?’ Saudara harusnya tidak boleh melakukan ini, jangan pernah lakukan ini, jangan pernah datang ke Istana negara lalu tanya kepada Pak Prabowo, Pak, di mana presiden yang baru?” Tentu saja mereka tidak sengaja, tapi tindakan mereka ini jadi pemicu segudang tragedi pembantaian yang akan langsung terjadi mengikutinya. Kita sudah tahu ceritanya, orang-orang Majus ini menjumpai Yesus, lalu pulang, dan berikutnya Yusuf menerima mimpi yang mengatakan, “Kamu harus kabur. Tentara Herodes akan datang.”
Coba kembali kita menempatkan diri dalam momen itu, baru saja persalinan, masih di rumah sakit, tapi harus pergi karena bayimu dicari dan mau dibunuh. Kalau kita ada dalam pengalaman seperti itu, kita akan kaget! Kita akan berdoa dan berdoa, “Tuhan tolong! Apa yang terjadi?? Di mana Engkau, kenapa ini terjadi padaku??” Tetapi yang Matius sedang ajak kita lewat kutipannya ini, adalah bahwa yang terjadi di sini tidak mengagetkan Tuhan. Kita pun baru sadar, bahwa apa yang Herodes –seorang penguasa yang insecure— akan lakukan kalau kuasanya terancam adalah mulai menggunakan kekerasan dan penindasan. Itu bukan cerita baru. Bahkan ini bukan cerita baru dalam Alkitab. Kita sudah pernah mendengar cerita ini sebelumnya. Dan sesungguhnya, dalam kisah-kisah seperti ini di Alkitab, seringkali justru mengandung pola bahwa Allah bekerja di dalam dan melalui situasi-situasi tersebut. Itu sebabnya Matius mengatakan, bahwa lewat hal ini terjadi maka genaplah firman yang mengatakan, “Dari Mesir Kupanggil keluar Anak-Ku.”
Di sini mari kita belajar sedikit cara baca Alkitab. Mengenai genap firman ini, Matius mengutip nabi yang mana? Nabi Hosea. Biasanya kita lalu berpikir, ini berarti Matius melihat Perjanjian Lama sebagai segudang koleksi ayat-ayat prediksi dari apa yang akan terjadi dalam kehidupan Yesus belakangan. Oke, coba kita pakai kacamata seperti itu dan melihat Hosea 11:1-3, “Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu. Makin Kupanggil mereka, makin pergi mereka itu dari hadapan-Ku; … tetapi mereka tidak mau insaf, bahwa Aku menyembuhkan mereka.” Lho??? Ini apa, ya? Ini bukan nubuat mengenai masa depan, ini merupakan refleksi terhadap masa lampau. Hosea di pasal 11 sedang mengingat apa yang pernah terjadi dalam kisah Keluaran. Israel di situ disebut sebagai anak Allah, karena dalam Kel. 4 Allah memang mengatakan kepada Firaun, “Israel itu anak-Ku, anak sulung-Ku. Biarkan anak-Ku itu pergi.” Firaun menolak, maka Allah menjatuhkan 10 tulah, Dia membawa Israel keluar, memasukkannya ke tanah perjanjian, tetapi anak Allah ini membangkang terus, memberontak, menyembah berhala-berhala. Jadi ini bukan prediksi masa depan, ini sebuah refleksi masa lalu, bercerita mengenai kesetiaan Allah kepada Israel, dan juga ketidaksetiaan Israel kepada Allah. Kalau begitu, kenapa oh kenapa Matius mengutip bagian ini dan memasukkannya ke dalam kisah Yesus?? Saudara, ini hint bagi kita untuk menyadari kayaknya cara baca kita salah, kayaknya Matius tidak melihat Perjanjian Lama sebagai segudang kalimat prediksi yang perlu dicari-cari momen persisnya dalam hidup Yesus kapan dan di mana terjadinya.
“Oke, Pak, jadi maksud Matius menggunakan kutipan ini bukan model prediksi Nostradamus, begitu? Lalu apa, dong??” Matius sedang melakukan sesuatu yang lebih bermakna. Ini sesungguhnya baru satu permulaan dari pola-pola yang akan kita lihat terus-menerus dalam Injil Matius. Matius mau memperlihatkan bagaimana peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup Yesus itu seperti menceritakan ulang kisah sejarah bangsa Israel.
Saudara perhatikan dalam kisah bangsa Israel, mereka masuk ke Mesir lalu mereka dipanggil keluar dari Mesir. Di Mesir ada raja bengis (Firaun) yang membunuhi anak-anak mereka, melempar anak-anak orang Israel ke Sungai Nil. Setelah keluar dari Mesir, mereka mengembara 40 tahun di padang gurun, dan pada akhirnya mereka menyeberang Sungai Yordan untuk masuk ke tanah perjanjian. Sekarang lihat Injil Matius. Dalam kisah hidup Yesus, Yesus juga dilarikan ke Mesir dan dipanggil keluar dari Mesir. Dalam zaman Yesus juga ada raja bengis yang membunuhi anak-anak Israel, tapi sekarang rajanya Herodes bukan Firaun. Setelah Yesus dewasa, dicatat oleh Matius bahwa Ia berpuasa dan dicobai Iblis di padang gurun selama 40 hari. Lalu Ia dibaptis oleh Yohanes di Sungai Yordan. Ini bukan kebetulan, Saudara. Jadi, kutipan dari Hosea pasal 11 ini merupakan awal mula dari pola yang Matius akan perlihatkan terus-menerus kepada kita, bahwa Yesus, Mesias Israel, datang menjalani apa yang Israel gagal jalankan. Ini seakan-akan Tuhan sedang me-rewind kisah Israel yang gagal itu, srrrtttt ke depan lagi, mulai dari awal lagi, Yesus Kristus akan menjalani semua yang Israel gagal, dan kali ini Dia menjalaninya dengan taat sempurna.
“Oke, itu studi biblika yang keren, saya baru tahu; tapi apa praktikanya, Pak??” Sangat pratical dan bahkan pastoral, Saudara. Kalau kita seorang ibu muda yang melarikan diri karena nyawa anak kita terancam, kita sangat mudah berpikir Tuhan telah meninggalkan kita ‘kan, tetapi lewat kutipan ini Matius mengundang kita untuk melihat bahwa kejahatan manusia itu mengerikan, namun adanya kejahatan manusia itu tidak bisa menghalangi karya keselamatan yang Allah mau kerjakan, tidak dalam zaman dulu, dan tidak dalam zaman sekarang.
Apakah ini berarti kejahatan manusia tidak ngefek, tidak berdampak? Jelas bukan demikian. Kejahatan manusia itu riil, kejahatan manusia senantiasa merusak dan benar-benar berdampak, tetapi apakah ini berarti Tuhan kehilangan kendali, Tuhan itu absen? Tidak. Ini semua berarti bahwa di tengah-tengah semua kejahatan manusia, Tuhan sesungguhnya tetap bekerja dan berkarya. Jadi, pertanyaan ‘di mana Tuhan dalam kekecewaan? di mana Tuhan dalam teror dan tragedi hidup manusia?’ jawaban Matius dalam bagian yang pertama ini adalah: Ia sedang bekerja, Ia sedang berkarya.
Bagian Kedua (ayat 16-18)
Maria dan Yusuf pun melarikan diri ke padang gurun menuju Mesir di tengah malam. Mereka pasti mendengar kabar mengenai pembantaian yang Herodes lakukan. Herodes tidak menemukan bayi Yesus maka dia melakukan persis yang Firaun lakukan 1000 tahun silam, membunuhi anak-anak lelaki bangsa Israel. Saudara bayangkan kalau Saudara adalah Maria dan Yusuf. Saudara menanggung beban ini di pundakmu seumur hidupmu, bahwa semua ini terjadi karena sasaran utamanya adalah anakmu; yang bener aja?? Di mana Tuhan? Ngapain aja Dia? Kenapa bisa hal-hal seperti ini terjadi?? Namun kembali lagi yang Matius lakukan adalah menjangkarkan hal ini kepada Alkitab, Perjanjian Lama.
Sekarang dia mengutip dari Nabi Yeremia. Sekali lagi, jangan membaca teks-teks ini sebagai prediksi gaya Nostradamus. Kalau Saudara membacanya secara demikian, apa yang akan terjadi? Kalau Saudara membaca bagian yang pertama tadi dengan gaya Nostradamus, Saudara akan bingung karena Hosea ternyata tidak ngomong ala Nostradamus, tapi kalau Saudara membaca kutipan yang kedua, dari Yeremia, dengan gaya Nostradamus, Saudara bukan cuma akan bingung, Saudara akan terganggu. Saudara akan terusik, karena kalau kutipan ini sifatnya sebuah ramalan, jadinya berarti Tuhan telah menubuatkan melalui Yeremia peristiwa keji yang akan dilakukan Herodes, pembantaian ini, dan Dia lalu menggenapkannya pada zaman Herodes. Dengan demikian kalau kita bertanya ‘di mana Tuhan dalam semua ini’, Matius menjawab, “O, Tuhan itu aktor intelektualnya. Jangan salah, Herodes itu cuma pion tok, buktinya ada perencanaannya lho sejak 600 tahun silam!” Tetapi bukan itu yang Matius mau katakan ‘kan. Jadi jelas, jangan baca Alkitab melalui lensa Nostradamus.
Kalau begitu, apa yang Matius mau katakan lewat kutipan ini? Mari kita kembali ke asalnya, Yeremia 31. Yeremia pada momen itu (600 tahun sebelum Yesus) adalah saksi mata terhadap salah satu peristiwa paling traumatis dalam sejarah Israel. Ini peristiwa datangnya Kerajaan Babilonia mengepung Yerusalem kira-kira setahun lamanya, kelaparan hebat terjadi. Lalu ada kisah di Alkitab tentang ibu-ibu yang datang kepada raja, bukan untuk mengatakan ‘beri kami makan’, melainkan mengatakan, “Raja, tolong berikan keadilan. Kemarin kami berdua sudah janji untuk makan anakku, dan hari ini makan anaknya. Tapi hari ini dia tidak mau berikan anaknya. Bagaimana ini, Raja??” Itulah yang terjadi pada zaman tersebut. Babilonia akhirnya meruntuhkan tembok-tembok Yerusalem, membunuh begitu banyak orang, merantai sisa-sisa rakyat, dan membawa paksa ke tanah Babel. Tidak lupa, mereka membakar Bait Allah.
Yeremia bukan cuma saksi mata, Yeremia sudah memprediksi juga bahwa semua ini akan terjadi, maka sepanjang kitabnya ia menulis begitu banyak nyanyian/puisi untuk mengungkapkan kemarahan Tuhan terhadap ketidaksetiaan dan dosa Israel yang menyebabkan pembuangan ini. Yang menarik, ia juga menulis begitu banyak puisi untuk mengungkapkan kesedihan hati Tuhan ketika pembuangan ini sungguh terjadi. Yeremia 31 adalah salah satunya.
Yer. 31:15, “Beginilah firman TUHAN: ‘Dengar! Di Rama terdengar ratapan, tangisan yang pahit pedih: Rahel menangisi anak-anaknya, ia tidak mau dihibur karena anak-anaknya, sebab mereka tidak ada lagi.’” Inilah yang dikutip oleh Matius. Namun lihat lanjutannya: “Beginilah firman Tuhan: Cegahlah suaramu dari menangis, dan matamu dari mencucurkan air mata, sebab untuk jerih payahmu ada ganjaran, demikianlah firman Tuhan; mereka akan kembali dari negeri musuh. Masih ada harapan untuk hari depanmu, demikianlah firman TUHAN: anak-anak akan kembali ke daerah mereka.” Jadi Saudara bisa melihat anak-anak Rahel di sini adalah bangsa Israel yang sedang digiring dalam pembuangan di bawah penindasan kerajaan asing. Namun yang menarik, lalu siapa Rahel-nya? Rahel memang salah satu ibu bangsa Israel; Israel adalah 12 anak Yakub yang lahir dari empat wanita, dan Rahel salah satunya. Juga dalam Kejadian 35 ada cerita mengenai Rahel yang menangis ketika melahirkan anaknya yang terakhir karena kelahiran ini akhirnya merenggut nyawanya. Jadi yang Yeremia lakukan di sini adalah mengambil Rahel sebagai simbol seorang ibu pertiwi yang menangisi anak-anak bangsanya. Ini ibaratnya ketika ada bencana banjir di Aceh yang begitu besar, ada seorang yang menuliskan lagu tentang ibu pertiwi yang sedang menangis melihat penderitaan anak-anak bangsa di Aceh. Itulah yang terjadi pada Yeremia. Pertanyaannya, siapa yang sedang disimbolkan melalui Rahel ini?
Dalam kutipan dari Hosea tadi, siapa yang memanggil Israel sebagai anaknya? Tuhan. Jadi sekarang siapa yang sesungguhnya sedang menangis ketika Israel dirantai dan digiring ke tanah asing oleh karena dosa mereka sendiri? Saudara, ini pada dasarnya persis seperti yang kita baca di Perjanjian Baru dalam tulisan Paulus, Surat Roma pasal 8, bahwa di tengah-tengah kahancuran karena kejahatan manusia dalam alam semesta ini, ada Roh Allah yang mengeluh (groaning) bersama-sama dengan kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.
Saudara ingat, di sini pernah mengkhotbahkan Yesus menangis pada saat Lazarus mati. Saudara tahu dalam kematian Lazarus itu Tuhan sedang bekerja ‘kan, Tuhan mau menunjukkan kemuliaan-Nya lewat kematian tersebut. Saudara tahu bahwa Lazarus sebentar lagi akan dibangkitkan. Tetapi, Yesus pada saat itu tidak simply mengatakan, “Sudahlah… cup, cup, cup… tunggu tanggal mainnya…”; Injil Yohanes menuliskan, bahwa dalam momen seperti itu Yesus menangis. Kenapa? Bukankah sebentar lagi bakal bangkit?? Yesus menangis karena Ia sempurna, Ia adalah kasih, Ia tidak pernah menutup hatinya terhadap dukacita orang lain, meskipun hanya untuk setengah jam. Yesus tidak pernah mengatakan, “Tidak ada gunanya Saya merasakan perasaan manusia-manusia ini.” Tidak pernah. Itu sebabnya dalam Kekristenan tangisan dan ratapan bukan tanda kurang rohani, tangisan dan ratapan bukan tanda jiwa yang tidak dewasa, tangisan dan ratapan bukan tanda orang tidak berserah kepada Tuhan. Orang-orang yang mirip dengan Yesus bukanlah orang-orang yang tidak pernah meneteskan air mata. Orang-orang yang mirip dengan Yesus justru orang-orang yang mampu menangis bersama dengan mereka yang menangis, mampu untuk masuk ke dalam dukacita orang lain.
Kembali lagi, di mana Tuhan? Di bagian yang pertama, Ia sedang bekerja, Ia sedang berkarya. Namun tidak berhenti di situ. Tuhan bukan simply mengatakan, “Aku sedang bekerja, tunggulah, cup, cup, cup, sudahlah… nanti kamu akan lihat hasilnya.” Tidak demikian; ada bagian yang kedua. Tuhan sedang bekerja; di mana Dia? Ia sedang bekerja sambil menangis. Ia menangis melihat semua kekecewaan ini. Ia menangis melihat semua penderitaan ini.
Bagian ketiga (ayat 19-23)
Akhirnya ada semacam good news, Herodes mati. Maria dan Yusuf pun kembali disuruh menempuh perjalanan panjang kembali ke tanah Israel. Dari ayat 22, jelas rencana awalnya adalah kembali ke Yudea, ke Betlehem. Itu adalah kota Daud, kotanya Yusuf. Yesus telah diadopsi masuk ke dalam keluarga Daud, maka itulah tempat yang paling tepat untuk membesarkan Yesus. Namun, kembali ada kekecewaan karena anak Herodes yang sama jahatnya naik takhta. Yusuf di tengah-tengah perjalanan akhirnya mengambil keputusan mendadak untuk ganti arah, tidak lagi menuju Betlehem, tidak lagi ke Yudea. Mereka akhirnya menambah lagi 151 km sampai ke Galilea, daerah yang tidak murni Yahudi, banyak bangsa kafir tinggal di sana, daerah kampung. Mereka sampai ke Nazaret. Yesus lahir di Betlehem, namun Dia besar di Nazaret.
Kenapa Nazaret signifikan untuk disebut di bagian ini? Karena Nazaret bukan opsi pertama Maria dan Yusuf. Nazaret itu kota yang akhirnya mereka ke sana karena tidak ada opsi yang lain. Nazaret punya reputasi yang sangat jelek, kita tidak tahu persisnya kenapa, tapi dalam kisah di Injil Yohanes ketika Natanael diajak untuk melihat Yesus dari Nazaret, dia langsung mencibir, “Nazaret?? Bah! Apa yang bagus yang bisa keluar dari Nazaret??” Bahkan hari ini kita menyanyikan lagu Natalnya “O, little town of Betlehem”, tidak ada yang nyanyi “O, little town of Nazareth”. Nazaret diulupakan. Itu kota yang jarang banget muncul. Dibandingkan Betlehem, kota Daud, kota yang berada persis di tengah jantung hati Yudea; sedangkan Nazaret cuma daerah dusun kecil pinggiran. Namun di situlah Mesias Israel besar. Itu sebabnya Matius menhadirkan kutipan yang terakhir, ayat 23, Setibanya di sana ia pun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.
Kutipan yang pertama tadi, kalau Saudara pakai lensa Nostradamus maka Saudara akan bingung. Kutipan yang kedua, kalau Saudara pakai lensa Nostradamus maka Saudara akan terganggu. Dan, kutipan yang ketiga ini kalau Saudara masih ngotot pakai lensa Nostradamus, saya tidak tahu Saudara akan merasa apa, karena coba saja cari pakai search engine, di mana ‘Nazaret’ pernah muncul di Perjanjian Lama? Tidak pernah ada, karena dusun Nazaret baru berdiri 150 tahun sebelum Yesus lahir. Dalam zaman Perjanjian Lama tidak ada Nazaret. Lalu coba Saudara search, nabi mana yang pernah mengatakan Mesias Israel akan disebutOrang Nazaret, dan hasil search-nya nol. Saudara mungkin akan garuk-garuk kepala, ‘jadi ini maksudnya apa? apakah ini yang orang sering sebut sebagai kesalahan-kesalahan Alkitab?’ Tidak, Saudara. Yang Matius lakukan di sini justru sangat amazing. Perhatikan bahwa Matius mengatakan kutipan pertama itu Hosea, kutipan kedua Yeremia, sedangkan kutipan yang ketiga bukan dari satu nabi saja melainkan dikatakan dari para nabi (nabi-nabi). Jadi yang Matius kutip ini bukan sebuah ayat, melainkan sebuah konsep/ide yang muncul dari berbagai nabi sepanjang Perjanjian Lama. Apa konsepnya?
Kalau Saudara membaca Yesaya, di pasal 11 Yesaya menggambarkan Mesias Israel sebagai sebuah taruk yang tumbuh dari pangkal Isai. Sebuah dahan, ranting kecil, tunas, yang tumbuh dari batang pohon yang sudah hangus/mati. Nabi-nabi berikutnya, Yeremia, Zakharia, suka dengan gambaran ini maka mereka menggunakan image yang sama dalam nubuat-nubuatnya. Dalam Yer. 23 dan dalam Zak. 6, Mesias Israel disebut sebagai Si Tunas itu, Si Ranting Kecil itu. Lalu apa nama kota tempat Yesus bertumbuh besar? Nazaret; bahasa Ibraninya Natzeret. Sekarang tebak istilah Ibraninya ‘tunas/ranting/taruk’, istilahnya adalah netzer. Exactly Nazaret pakai kata netzer, karena Nazaret itu kota ranting kecil, kota pinggiran, bukan kota pusat seperti batang yang kokoh. Jadi inilah yang Matius maksudkan ketika ia mengatakan Yesus akan disebut Orang Nazaret oleh para nabi, karena dia mau mengatakan, “Lihat, itulah Mesias yang dimaksudkan oleh Yesaya dan nabi-nabi lainnya.” Lebih daripada itu, bukan saja Matius mengklaim Yesus adalah Mesias, Matius sedang mengklaim bahwa Yesus itu Mesias karena Ia datang dari tempat yang kecil dan jelek ini, karena Yesus adalah manusia taruk. Mesias Israel itu cuma ranting kecil yang gampang patah. Yesaya dalam nyanyian-nyanyiannya sudah mengatakan hal ini, bahwa Mesias itu akan datang kepada umat-Nya, dan meski Ia adalah Raja mereka, Ia akan ditolak, dihina, dicerca, mati dibunuh umat-Nya sendiri yang Ia datang untuk selamatkan. Dalam Yesaya 53, ia memulai nyanyian yang kita familier itu, menyebut Mesias Israel sebagai Si Tunas itu.
Yes. 53, “Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” Dengan kata lain, segala sesuatu mengenai Yesus Kristus, termasuk dari kota mana Ia berasal, mengungkapkan dengan jelas identitas-Nya dan untuk apa yang Ia datang.
Saudara, kenapa Ia disebut Imanuel? Di mana Imanuel dalam teror dan tragedi umat manusia?? Di mana Tuhan ketika hidup kita begitu mengecewakan, ketika tidak ada satu pun harapan kita jadi realitas, dan malah mimpi-mimpi buruk menghantui kita?? Di mana Tuhan?? Matius mengundang kita untuk mempertimbangkan ulang, bahwa di dalam momen-momen seperti itu Tuhan beserta kita. Ia sungguh-sungguh beserta kita dengan cara Ia sesungguhnya masuk, mengalami, menjalani, menempuh semua teror-teror, tragedi-tragedi, dan kekecewaan-kekecewaan yang engkau dan saya alami dalam hidup ini.
Coba perhatikan sekali lagi kisah hidup Yesus Kristus. Coba baca sekali lagi dengan kacamata yang realistis, bukan kacamata yang nostalgic. Hidup Mesias adalah sesungguhnya rentetan kekecewaan demi kekecewaan. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi milik kepunyaan-Nya menolak Dia. Malam ketika Ia berlutut berdoa di taman Getsemani, apa menurutmu perasaan Yesus malam itu? Apakah Dia merasa di awan-awan? Apakah Dia merasa ‘O, Bapa begitu baik kepada-Ku karena semua mimpi dan harapan-Ku digenapi’? Tidak! Jadi, seperti apakah Allah Alkitab yang kita kenal lewat diri Yesus?
Ia adalah Allah yang menebus dan menyelamatkan kita, bukan dengan membuat semua harapanmu menjadi kenyataan. In fact, dunia hari ini, dunia yang kita rasa seperti neraka kadang-kadang ini, sesungguhnya adalah hasil dari harapan-harapan, kehendak-kehendak manusia, yang menjadi kenyataan. Saudara tidak percaya? Sometimes ada orang yang mengatakan mengenai apa yang dunia butuhkan: “Yang penting kau berbuat baik, be good, do the good deed for the day, itu saja yang dunia butuhkan.” Lah, Saudara pikir perang antara Rusia dan Ukarina terjadi karena apa?? Karena ada pihak yang berbuat baik dan ada pihak yang sengaja berbuat jahat? Saudara pikir konflik Israel dengan Gaza karena mereka merasa melaukukan apa yang jahat di mata mereka? Saudara, semua konflik ini terjadi karena mereka merasa sedang melakukan apa yang baik di matanya, melakukan apa yang good di mata mereka masing-masing. Mereka sedang mengambil buah pohon yang kelihatan baik di mata mereka, dan melakukan apa yang baik menurut pandangan mereka masing-masing. Itulah yang membuat dunia jadi neraka, entah itu dalam skala negara, perang negara lawan negara, ataupun perang suami istri.
Jadi bagaimana cara Tuhan menyelamatkan dunia seperti ini? Bukan dengan menghapusnya, melainkan dengan datang masuk ke dalamnya –benar-benar masuk ke dalam semua kehancuran dan kerusakan ini. Ia menjadi bayi bagi sepasang orangtua yang senantiasa kabur ke sana kemari dalam ketakutan melindungi nyawa mereka. Ia lahir di tempat pinggiran yang tidak ada apapun yang baik keluar dari situ. Ia dihina dan dicerca. Dan ini menggemakan apa yang telah kita lihat dalam kitab Daniel, bahwa waktu Yesus akhirnya muncul, situasi jadi tambah parah. Bayi-bayi dibantai karena Allah menjelma jadi bayi. Dan, apakah itu berarti Yesus terluput dari nasib yang sama? Tidak; nasib dari bayi-bayi tersebut pada akhirnya menjemput Yesus 33 ½ tahun kemudian. Satu-satunya yang membuat hidup Yesus tidak jadi tragedi, adalah hal yang terjadi setelah Dia mati, bukan sebelum Dia mati.
Setelah Ia mati, baru ada kebangkitan, yang membuat kita menyadari semua ini jungkir balik, tapi ingat, bukan sebelum Ia mati. Setelah Ia mati, Ia baru keluar. Dan, itu berarti Yesus benar-benar dalam hidup-Nya menempuh semua kemalangan manusia. Imanuel, Ia menyertai kita sampai kepada poin teror, tragedi, kekecewaan yang paling final: kematian. Ia tidak pernah menghindar dari semua itu. Ia menjadi apa yang manusia di dalam dosanya tidak bisa melihat yang good, yang realitasnya justru terbalik. Para nabi memperlihatkan justru di tempat itulah Allah sedang bekerja, Allah sedang mengerjakan goodness. Justru di tempat-tempat Saudara merasa paling tidak ada Tuhan, kisah Yesus mengajak kita melihat bahwa di situlah engkau menemukan Imanuel.
Satu hal menarik, kalau engkau pernah merasakan doamu tidak dijawab oleh Tuhan, dalam momen seperti itu kita tergoda untuk mengatakan ‘Tuhan tidak ada, Tuhan tidak menyertaiku’. Ini salah besar, Saudara, karena di taman Getsemani Anak Allah tahu rasanya doa yang tidak terjawab. Inilah kuasa dari Imanuel. Allah beserta kita bukan berarti mulai sekarang doamu semuanya dijawab Tuhan. Tidak demikian. Bahkan tidak bisa demikian, karena apa yang kita minta sering kali begitu konyol, begitu destruktif, hanya saja kita tidak sadar. Semua orangtua yang baik tahu mereka tidak mungkin boleh menjawab semua permintaan anak-anak mereka, kalau mereka mau anak itu survive sampai dewasa.
Allah beserta kita, berarti dalam momen doamu tidak terjawab itu engkau justru menyadari, menemukan, kedekatan dengan Yesus, yang sebelumnya engkau tidak pernah rasakan. Ini ‘kan aneh banget, doa tidak dijawab justru merupakan momen engkau merasakan rangkulan tangan Yesus, yang tidak pernah engkau rasakan melalui cara apapun yang lain, karena dalam momen itu engkau tahu Ia pun pernah mengalaminya. Ia pun pernah meminta, “Kalau boleh cawan ini lalu dari pada-Ku.” Tiga kali Ia meminta, namun langit yang pernah terbuka saat baptisan-Nya, kali ini diam, sunyi, hening. Ia sudah mengalami semua itu terlebih dulu. Inilah Kekristenan, Inilah Imanuel.
Saudara lihat, kisah Natal tidak didesain untuk membuat kita, “Amin, amin, haleluya, yes! Tuhan beserta kita.” Kisah Natal didesain untuk membuat kita bertanya, di mana persisnya Tuhan beserta kita, di mana persisnya Allah Imanuel dengan kita. Berita Natal bukanlah berita Yesus datang maka semua mimpi indahmu akan terjadi. Berita Natal bukanlah berita Yesus datang maka semua kekecewaanmu akan dihapuskan. Berita Natal adalah berita di mana semua keberdosaan dan kejahatan manusia diakui, bukan disapu dan disembunyikan di bawah kolong lemari. Tetapi berita Natal juga adalah berita bahwa dosa dan maut itu, yang begitu gelap, yang begitu meliputi dunia ini, tidak bisa menjadi kata terakhir dalam ciptaan, oleh karena apa yang terjadi dalam hidup Yesus Kristus.
Khotbah hari ini bukan cuma studi Alkitab atau teologi tok, khotbah ini praktis dan pastoral, karena saya tahu di ruangan ini ada begitu banyak orang yang bergumul untuk bisa terus percaya bahwa Allah itu baik, bahwa Allah itu eksis, karena engkau melihat betapa hidupmu jungkir balik. Itu sebabnya Matius sekarang mengundangmu untuk melihat dengan sudut pandang yang lain, bahwa Yesus justru sedang menderita bersamamu. Ia datang untuk bersatu denganmu dalam penderitaanmu. Ia datang bahkan untuk bersatu denganmu dalam kematianmu. Oleh karena Ia adalah yang pertama-tama masuk sampai kedalaman yang paling dalam, dan Ia satu-satunya yang berhasil menembus keluar dari sisi yang sebelah sana, maka kita yang bersekutu dengan Dia dalam kematian-Nya juga akan dibangkitkan, disatukan dalam kebangkitan-Nya. Inilah berita Natal.
Ini bukan berita yang terang-terang tok. Ini sebabnya kita merayakan Natal bukan dengan lampu-lampu ala diskotik yang menyala sana-sini, kita merayakan Natal dengan candle light service. Kita sengaja mematikan lampu. Perayaan Natal yang Alkitabiah tidak menjauhi kegelapan. Kita mengakui adanya kegelapan yang meliputi kita dan dunia ini, namun kita juga melihat adanya Allah yang bekerja dalam kegelapan, yang menangis dalam kegelapan, dan yang menyertai kita dalam kegelapan tersebut. Itu pengharapan kita. Itu berita Natal.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading